Jumat, 16 September 2016

Distan Jatim harapkan perbankan permudah salurkan kredit pertanian pangan

per 1 Agustus sudah surplus sebesar 23.000 hektar atau mencapai 2.306.000 hektar luas tanam padi di Jatim. Foto,ilust-ist

LENSAINDONESIA.COM: Menurut catatan BI, sektor pertanian berkontribusi 2,71% dari total penyaluran kredit sejumlah Rp 360 triliun di tahun ini hingga bulan Juli, dan masih didominasi pertanian tebu. Sementara untuk sektor pangan masih sangat kecil. Untuk itu, Distan Provinsi Jatim sangat menginginkan Perbankan lebih memperhatikan hal ini.

“Segmen pangan memang cukup strategis dan berpotensi, sebab produksi padi, jagung dan kedelai Jatim saat ini tertinggi di Indonesia. Untuk Jatim, saat ini produksi padi cukup maksimal. Target yang diberlakukan pemerintah pusat sebesar 2.282.304 hektar luas tanam lahan padi, sedangkan per 1 Agustus sudah surplus sebesar 23.000 hektar atau mencapai 2.306.000 hektar luas tanam padi di Jatim. Di bulan September, tanam padi masih berlangsung di lahan seluas 63.000 hektar,” ujar Wibowo Eko Putro, Kepala Dinas Pertanian Jatim di acara seminar bertema “Peran Perbankan Dalam Pembiayaan Sektor Pertanian” yang digelar Forum Jurnalis Ekonomi dan Bisnis Surabaya (FORJEBS) di Hotel Aria Surabaya, Kamis (01/920116).

Wibowo menambahkan, bisa jadi target produksi padi Jatim oleh pemerintah pusat 13,5 juta ton Gabah Kering Giling, di tahun ini bakal terlewati. Hal ini tak lepas dari musim kemarau basah sedang melanda Indonesia tahun ini akibat La Nina. Sebab berlangsungnya hujan di beberapa daerah, lahan kering tadah hujan biasanya ketika kemarau tak bisa ditanami, kini bisa ditanami padi, layaknya yang terjadi di Madura.

“Memang kita diuntungkan dengan iklim ini. Karena selama ini luas tanam padi Jatim tidak pernah mencapai 2,3 juta hektar per tahun, biasanya rata-rata mencapai 2,1 juta hektar atau bahkan 2,067 juta hektar. Tetapi yang harus diwaspadai adalah banyaknya organisme pengganggu tumbuhan. Untuk itu, dari Pengamat Hama Penyakit di setiap Kabupaten Kota terus berkeliling. Dan alhamdulillah gangguan organisme pengganggu tumbuhan hanya mencapai 0,5%,” terangnya.

Produksi padi Jatim hingga tahun 2019 ditarget capai 15 juta ton GKG. Hal ini seiring rampungnya program rehabilitasi saluran tersier dan dibangunnya waduk seluruh Jatim yang berdampak positif terhadap naiknya indeks pertanaman Jatim yang diprediksi mencapai 2,58.Bisa jadi di tahun 2019 rata-rata sawah di Jatim tertanami tiga kali dalam satu tahun.

“Kadar air yang bisa diberdayakan di Jatim mencapai 52,2 miliar kubik. Lalu kebutuhan air di sektor pertanian Jatim mencapai 22,2 miliar kubik sedangkan yang tersedia hanya 19,2 miliar kubik. Maka sejak tahun 2009 kami terus merehabilitasi saluran tersier. Kami minta kebijakan PU Pengairan terkait titik koordinat saluran primer dan skunder yang dibangun PU. Jika terketahui titik kordinat saluran primer dan skunder tersebut, maka akan kami sambung dengan saluran tersier,” pungkas Wibowo.

Rehabilitasi saluran tersier tahun ini sudah mencapai 95.000 hektar. Sedangkan dari tahun 2009 hingga kini, program rehabilitasi saluran tersier di Jatim sudah mencapai 52% dari 931.000 hektar hingga 2019 atau sekitar 500.000 hektar.@Eld,Nis

loading...

0 komentar:

Posting Komentar