Jakarta – Menteri BUMN didesak segera melakukan pemecatan terhadap direktur PT Telkom lantaran telah menjual aset negara yakni PT Simpatindo kepada PT Tiphone yang baru berdiri 2008 silam.
Padahal PT Simpatindo yang bergerak dibidang penjualan Voucher isi ulang Telkomsel yang secara kinerja perusahaan sangat memberikan kontribusi besar dalam menyumbangkan keuntungan bagi Telkom serta masuk dalam katagori perusahaan yang sangat Sehat.
Desakan pemecatan direksi Telkom itu, menyusul adanya pernyataan dari Menteri keuangan Sri Mulyani mengatakan adanya BUMN yang jadi bancaan yang sangat halus dan sulit untuk dijerat tindak pidana korupsi oleh para penegak hukum.
“Ada kejanggalan dalam proses penjualan Simpatindo pada Tiphone ,dimana sebelum membeli Simpatindo ,terlebih dulu Tiphone menjual sahamnya sebanyak 25 % kepada anak perusahaan Telkom PT PINS dengan harga yang overvalue padahal saham Tiphone yang berkode TELE tersebut sedang anjlok hingga kisaran mendekati Rp 600 / Saham hingga hampir satu tahun lebih Saham Tiphone Tak kunjung naik melebihi harga sama Tiphone yang dibeli oleh PINS” Kata, sumber resmi kepada deliknews.com Jumat (2/9)
Tetapi, kata Sumber, PINS Indonesia mengambil alih sebanyak 1,11 miliar (15 persen) saham Tiphone senilai Rp 876,7 miliar. PINS Indonesia membeli saham Tiphone dari Boquete Group SA, Interventures Capital Ltd, PT Sinarmas Asset Management, dan Top Dollar Investment Ltd. Perjanjian jual-beli ditandatangani pada 11 September 2014.
Selanjutnya, PINS membeli 10 persen saham Tiphone melalui penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (non-HMETD),” sebanyak 638,05 juta saham baru atau setara 10 persen melalui aksi non-HMETD pada 18 September 2014. Harga pelaksanaan non-preemptive rights tersebut sebesar Rp 812,2 per saham. Dengan demikian, PINS harus mengeluarkan dana sebesar Rp 518,23 miliar untuk menyerap saham baru Tiphone.sehingga total pembelian 25 persen Saham
Dijelaskan sumber, pelepasan PT Simpatindo membuat PT Telkom merugi. “Ya. Ini, karena Simpatindo memiliki kinerja baik dilepas hingga 99,5 persen kepemilikan Saham dengan harga Rp 500 Milyar sangat murah sekali dibayarkan dengan hasil dana penjualan Saham Tiphone kepada PINS Indonesia” Ungkap Sumber.
Dampak pembelian saham Tiphone, menurut Sumber, terhadap keuangan TLKM tidak akan menghasilkan perubahan yang signifikan malah cenderung rugi besar, ditinjau dari kapitalisasi pasar TELE per 20 Mei 2014, yakni sebesar Rp4,5 triliun, maka pembelian 10-20 persen saham TELE akan membutuhkan biaya Rp450-900 miliar. Dengan nilai investasi tersebut kemungkinan sebagian besar biaya akan dibiayai dengan kas, karena TLKM sendiri telah memberikan anggaran belanja modal tahun 2014, yakni sebesar Rp 22,3 triliun.
(rls/gnr)
0 komentar:
Posting Komentar