Tentara Myanmar menggelar operasi militer di perbatasanLENSAINDONESIA.COM: Sedikitnya 160 orang tewas dalam 3 bulan terakhir akibat baku tembak antara militer dan kelompok bersenjata di negara bagian Shan, Myanmar.
Seorang perwira tinggi militer Myanmar menyampaikan informasi itu, Selasa (28/2/2017) di Naypyidaw, ibukota negara tersebut, sebagaimana dilaporkan Agence France-Presse.
Lebih dari 20.000 orang telah mengungsi sejak pertempuran antara tentara dan kelompok bersenjata meletus di dekat perbatasan dengan China pada akhir November 2016.
Kerusuhan telah menjalar di seluruh negara bagian Shan dan negara bagian tetangga Kachin. Insiden itu menghambat upaya pemimpin de facto Aung San Suu Kyi mengakhiri konflik panjang di perbatasan kedua negara.
Serangan militer sejak pertengahan 2016 meningkat setelah beberapa kelompok bersenjata melancarkan serangan besar pada November lalu. Militer membalas serangan itu dengan operasi artileri berat dan serangan udara. Para ahli mengatakan, pertempuran di daerah perbatasan adalah yang paling intens sejak 1980-an.
Pertempuran di perbatasan China-Myanmar itu mendorong PBB mengirim warning terjadinya krisis kemanusiaan di daerah konflik, khususnya di Kachin dengan menyebut sekitar 100.000 orang telah mengungsi sejak 2011.
Menurut pejabat tinggi militer Myanmar, 74 tentara, 15 polisi, 13 anggota milisi pro-pemerintah dan 13 warga sipil tewas akibat kekerasan di perbatasan tersebut. “Kami menemukan 45 mayat dari sisi musuh dan menangkap empat militan pemberontak,” terang Jenderal Mya Tun Oo kepada wartawan. @kc/LI-15
0 komentar:
Posting Komentar