
JAKARTA, AMUNISINEWS.COM-Fahri Hamzah, sepertinya tak pernah susut menjadi wakil rakyat yang kritis. Lagi-lagi, politisi asal Bima, Nusa Tenggara Barat ini, mengkritisi Presiden Joko Widodo, khususnya saat “berduaan” di mobil saat meninjau perkembangan proyek pembangunan Simpang Susun Semanggi, dan stasiun bawah tanah Mass Rpit Transit (MRT), Rabu pekan lalu. Ia menyayangkan “berduaan” tersebut. Kenapa? Pasalnya, Ahok – begitu sapaan akrab Gubernur DKI itu berstatus terdakwa penistaan agama.
“Ngundang presiden, benar enggak itu? Katanya presiden ngajak dia naik ke mobil dinas presiden, bener enggak itu? Itu kan enggak benar juga. Presiden harus mengerti rasa etika dong, Basuki kan lagi jadi terdakwa, di atas tersangka loh, terdakwa,” kata Fahri pada awak media di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (24/2).
Menurutnya, Jokowi seyogianya tidak semobil dengan Ahok. Sebab, selain bisa merusak etikanya sebagai Presiden, juga Ahok Paslon Gubernur DKI yang lolos ke putaran kedua
“Jadi etika Jokowi hancur sebetulnya di situ. Itu disayangkan sekali. Harusnya Pak Jokowi punya etika yang benar. Ini lagi Pilkada kok, kan dia harusnya enggak usah terlibat yang begini,” tegasnya.
Fahri menilai sikap Jokowi yang satu mobil untuk meninjau sejumlah proyek di Jakarta itu sebagai kampanye. Kejadian itu, akan menimbulkan persepsi buruk di masyarakat. Maklumlah seorang terdakwa bisa bebas berkomunikasi dan menumpang mobil dinas Presiden.
“Presiden harus benar cara meletakkan dirinya itu, terus ini ninjau proyek. Itu semua dianggap kampanye dan saya juga anggap itu kampanye,” tegasnya.
Itu makanya, kata Fahri, yang disebut rasa keadilan itu hilang di sini. “Orang melihat ada yang jadi pesakitan, tapi petantang-petenteng. Apalagi statusnya sudah terdakwa, bicara sama presiden, masuk mobil presiden dan presiden seperti tidak melihat apa-apa,” tandasnya. (lian)*/dra
(Visited 3 times, 3 visits today)
0 komentar:
Posting Komentar