Ambon - Duet Herman Koedoeboen dan Abdullah Vanath, merupakan dua tokoh dalam dinamika politik yang tidak perlu diragukan. Kendati masih sebatas perbincangan, tetapi jika kedua tokoh tersebut bergabung, maka bisa jadi lawan berat bagi petahana.
Menjelang Pilkada Maluku tahun 2018 mendatang, jika Herman dan Vanath berpasangan maka akan menjadi lawan berat bagi Gubernur Said Assagaff.
Akademisi Unpatti, Paulus Koritelu menilai munculnya nama Herman dan Vanath yang dikabarkan akan gabung jurus, merupakan dinamika perkembangan politik yang cukup menarik karena merupakan konstruksi kebangkitan etnis yang bermuara pada identitas politik yang sekalipun dituduh premordial, tetapi merupakan sebuah fakta yang tidak terbantahkan.
“Pilkada Maluku 2018 nanti akan sangat menarik jika Herman-Vanath benar-benar bergabung. Mereka berdua ini muncul dalam dinamika politik yang mengacu pada konstruksi kebangkitan etnis,” kata Koritelu kepada Siwalima di Ambon, Senin (13/3).
Dijelaskan, warga yang berasal dari kawasan Maluku Tenggara Raya, meliputi Tual, Maluku Tenggara, Maluku Tenggara Barat, Maluku Barat Daya dan Kepulauan Aru, diperkirakan akan memberikan dukungan kepada Herman. Apalagi jika berpasangan dengan Vanath, maka tentu warga Tenggara Raya memiliki hubungan pela dengan Kabupaten SBT sudah tentu merupakan suatu kekuatan yang tidak boleh dipandang remeh.
“Warga Tenggara Raya sudah pasti bangkit dan memberikan dukungan kepada Herman. Itu sudah terbukti pada Pilkada Maluku 2013 lalu. Saat itu, Herman memenangkan perolehan suara di seluruh kabupaten dan kota di Tenggara Raya. Diperkirakan hal yang sama akan terulang jika Herman akan maju kembali. Apalagi jika berpasangan dengan Vanath maka menjadi suatu kekuatan yang patut diperhitungkan,” jelasnya.
Diakuinya, konstruksi kebangkitan daerah asal ini, boleh jadi hanya terhambat pada pemegang rekomendasi dari partai politik. Misalnya, pada level tertentu, petahana Said Assagaff santer dikabarkan berpasangan dengan Edwin Huwae atau John Ruhulessin. Maka kemudian kontruksi kepentingan politik modern dalam hal ini jika Assagaff dengan Huwae berarti Golkar akan berkoalisi dengan PDIP.
“Itu artinya, konstruksi politik modern bisa jadi berhadapan dengan konstruksi politik berbasis daerah,” ujarnya.
Ditambah lagi, sosok Herman dan Vanath sudah membuktikan jika keduanya patut diperhitungkan. Mengingat, kedua sosok itu memiliki modal yang besar saat bertarung pada Pilkada 2013 lalu, dimana baik Herman dan Vanath yang saat itu saling bertarung tetapi mampu mencapai tiga besar bersama Assagaff.
“Mereka berdua sudah menunjukan kualitas saat pilkada yang lalu. Herman maupun Vanath saling bertarung juga dengan Assagaf dan calon lainnya. Tetapi, Herman dan Vanath berada dalam posisi tiga teratas, sehingga itu menjadi modal besar bagi keduanya jika bergabung, “jelasnya.
Menurut Koritelu, dalam perpolitikan kemarin, sebenarnya ada konstruksi ketidakadilan yang bermaksud menggeserkan Herman, karena dalam logika politik modern, Koedoeboen menang di enam kabupaten kota tetapi tidak lolos ke putaran kedua.
“Dalam konstruksi saat itu, perhitungan pasangan Said Assagaff-Zeth Sahuburua, jika melawan Herman yang saat itu berpasangan dengan Daud Sangadji di putaran kedua maka dipastikan Assagaff-Sahuburua akan kalah. Karena etnisitas Tenggara, tanpa dimobilisasi tetap akan muncul, dalam rasionalisasi pilihan politik mereka,” ungkapnya.
Apalagi, jika Herman dan Vanath memiliki kendaraan politik, akan sangat menarik untuk bertarung dengan petahana. “Bisa jadi Herman-Vanath akan menjadi penantang yang serius untuk petahana, “ujarnya.
Partai Pengusung
Menyangkut partai yang akan mengusung Herman-Vanath, Koritelu mengaku sesuai aturan pasangan calon harus diusung oleh parpol atau koalisi parpol yang memiliki 20 persen dari jumlah total kursi di DPRD Maluku. Kursi DPRD Maluku berjumlah 45, sehingga pasangan calon harus diusung parpol atau koalisi parpol yang memiliki 9 kursi.
Berdasarkan perolehan suara hasil Pemilu Legislatif 2014, PDIP memiliki 7 kursi di DPRD Maluku, disusul Golkar, Demokrat dan PKS masing-masing 6 kursi. Gerindra walaupun perolehan suaranya berada dibawah NasDem namun berhasil meraih 5 kursi sedangkan NasDem 4 kursi. Begitu juga dengan Hanura, walaupun suaranya dibawah PKB namun berhasil meraih 4 kursi sementara PKB hanya 3 kursi. PKP Indonesia pada periode ini berhasil menempatkan 2 wakilnya di DPRD Maluku. Sementara PAN dan PPP masing-masing 1 kursi. Hanya PBB yang tak mampu meraih 1 kursi di DPRD Maluku.
Kabarnya, Herman-Vanath hampir pasti mengantongi rekomendasi PKB yang memiliki 3 kursi. Istri Vanath merupakan politisi PKB yang saat ini menempati kursi wakil rakyat Maluku di DPR RI. Walau begitu, keduanya masih membutuhkan 6 kursi lagi untuk melaju sebagai peserta pilkada. Koritelu menilai dari sisi partai besar misalnya PDIP, Herman sudah membuktikan jika dirinya sudah layak dijual. Karena, Herman punya nilai jual yang tinggi. “Tetapi, tergantung dari internalitas PDIP itu sendiri. Apalagi dengan fenomena munculnya Edwin Huwae apakah mau merelakan atau memberikan mandat kepada Herman. Tentu masih dalam proses panjang,“ imbuhnya.
Tetapi, kata akademisi Fisip Unpatti itu, yang harus diketahui bahwa Pilkada Maluku 2013 lalu, memberikan modal besar bagi Herman dan DPP PDIP sudah mengetahui jika Herman mempunyai kans besar untuk maju bertarung di Pilkada 2018.
“Herman sudah buktikan pada Pilkada Maluku 2013, meskipun tidak diperhitungkan tetapi mampu memiliki perolehan suara yang begitu luar biasa. DPP PDIP pasti sudah tahu kualitas Herman yang memiliki massa besar,” katanya.
Begitu juga dengan Partai Demokrat, menurut Koritelu, dengan posisi partai dipimpin oleh Jacobus Puttileihalat, belum tentu juga mau memberikan rekomendasi kepada Vanath. Karena bisa saja kepentingan elit partai lebih diutamakan daripada sosok yang handal.
“Jalan satu-satunya, Herman-Vanath melakukan konsolidasi untuk alternatif menggabung jurus bersama partai lain seperti Gerindra, PPP, PKB, PKS, NasDem, Hanura dan partai lainnya. Jika hal itu terealisasi, dalam hal ini koalisi partai mendukung Herman-Vanath maka bisa dipastikan akan jadi saingan terkuat petahana,” ungkapnya.
Pendukung Vanath
Akademisi Unidar Ambon, Zulkifar Lestaluhu menjelaskan, bisa saja sosok Herman Koedoebun menggandeng Vanath untuk maju dalam Pilgub 2018 mendatang. Apabila terealisasi, maka tergantung pendapat masyarakat yang memberikan penilaian.
Tetapi yang jelas, katanya, konstituen Vanath masih setia meskipun setalah berakhir masa jabatannya di SBT. Dan jika Abdullah Vanath maju, maka dapat dipastikan konstituennya akan tetap loyal dalam memberikan dukungan suara
“Mereka tetap loyal kepada AV. Meskipun sudah tidak menjadi Bupati SBT lagi tetapi sosoknya itu masih tenar,” ujarnya,
Sedangkan Herman Koedoboen, juga mempunyai basis massa dari kalangan sesama etnis dan dukungan keluarga besarnya, karena, dukungan di kawasan Tenggara raya untuk seorang Herman Koedoboen sangat solid.
“Jika keduanya benar-benar bersanding, maka dipastikan akan menjadi ancaman buat petahanan dan paslon lain,” pungkas Lestaluhu.
Sebagaimana diketahui, Herman-Vanath, santer dikabarkan akan berpasangan menuju Pilkada Maluku, yang akan dilaksanakan pertengahan tahun 2018.
Nama Herman dan Vanath tentu tidak lagi asing di kuping warga Maluku. Keduanya secara sendiri-sendiri menorehkan prestasi yang luar biasa, kala mengikuti Pilkada tahun 2013 lalu.
Kala itu PDIP mengusung Herman yang Wakil Kepala Kejati Maluku, berpasangan dengan pengusaha lokal Daud Sangadji.
Sedangkan Vanath yang 10 tahun menjabat Bupati Seram Bagian Timur, berpasangan dengan Marthin Maspaitela, yang berlatar belakang akademisi. Keduanya menorehkan prestasi yang luar biasa.
Hasil perhitungan suara putaran pertama yang digelar 11 Juni 2013, sebagai ditetapkan KPU Maluku menyebutkan, Herman yang tidak pernah diperhitungkan sebelumnya, malah memperoleh suara nomor tiga terbanyak, dengan 188.088 suara dari 772.311 suara sah (24,35 persen).
Pada posisi pertama, tercatat nama Vanath dan Maspaitela dengan 205.564 suara (26,63 persen) sedangkan Said Assagaff dan Zeth Sahuburua berada posisi kedua dengan memperoleh 198.428 suara (25,69 persen).
Kendati berada di posisi ketiga, namun Herman mendapat suara terbanyak di Kota Ambon, Kota Tual, Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku Barat Daya, Maluku Tenggara dan Maluku Tenggara Barat.
Sementara Vanath dan Maspaitela hanya unggul telak di Seram Bagian Timur sedangkan Assagaff-Sahuburua mendapat suara terbanyak dari Kabupaten Buru dan Buru Selatan.
Kendati hasil putaran pertama sempat berujung ke Mahkamah Konstitusi, namun Vanath-Maspaitella dan Assagaff-Sahuburua yang dinyatakan melangkah ke putaran kedua.
Di putaran kedua pilkada yang berlangsung 14 Desember 2013, Vanath-Maspaitella kalah tipis dari Assagaff-Sahuburua. Vanath-Maspaitella kala itu memperoleh 383.705 suara dari 773.589 suara sah (49,6 persen), sementara Assagaff-Sahuburua 389.884 suara (50,4 persen). (S-46)
0 komentar:
Posting Komentar