Minggu, 05 Maret 2017

Martha Abaikan Panggilan DPRD

Ambon - Kepala ESDM Maluku, Martha M Nanlohy hanya memandang DPRD dengan sebelah mata. Berulang kali dipanggil, namun ia abaikan.

Martha dipanggil Komisi B untuk membahas masalah tambang emas Gunung Botak, Kabupaten Buru yang kini kembali dikuasai ribuan penambang ilegal.

Eksplorasi tambang emas oleh PT Gemala Borneo Utama (GBU) di Pulau Romang, Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) juga akan dibahas.

Bukan hanya itu, tambang Batu Sinabar di Desa Ihaluhu, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) juga menjadi agenda penting untuk diba­has. Tetapi tak satupun pang­gilan Ko­misi B dipenuhi.

“Komisi berkeinginan agar Kadis ESDM bisa hadir agar supaya bisa menjawab bebe­ra­pa permasalahan yang ter­jadi terkait pertambangan, mi­salnya Pulau Romang, Gu­nung Botak dan ada juga yang di SBB itu,” tandas Wakil ketua Komisi B DPRD Malu­ku, Abullah Marasabessy ke­pada Siwalima, Minggu (5/2).

Menurut Marasabessy, Kadis ESDM sudah dipanggil lebih dari tiga kali. Tetapi tidak hadir. Pada hari Jumat (3/2) ia hanya mengutus stafnya.

“Kita panggil sudah bebe­rapa kali tetapi kemarin yang datang itu staf,” ujarnya.

Sekembalinya pengawasan dari Kabupaten Malteng dan SBB, Komsi B akan kembali memanggil Kadis ESDM. Ia berharap, Kadis bisa hadir agar berbagai masalah menya­ngkut pertambangan dapat dibahas.

“Sebelum ke Buru untuk lakukan Pengawasan, kita akan panggil lagi Kadis ES­DM. Kita inginkan yang ber­sangkutan hadir secara fisik supaya dapat memberikan jawaban dibalik permasalahan tambang,” tegasnya.

Gubernur Tutup

Gubernur Maluku, Said Assa­gaff telah menyurati Pang­lima TNI, Kapolri juga Pangdam XVI/Pattimura dan Kapolda untuk meminta bantuan peng­amanan di lokasi Gunung Bo­tak, sekaligus menertibkan para penambang liar.

Presiden Joko Widodo me­nginstruksikan untuk menu­tup Gunung Botak. Instruksi tersebut disampaikan secara lisan oleh presiden kepada gu­bernur saat menghadiri Pe­laksanaan Hari Pers Nasional (HPN) 2017, 9 Februari lalu di Ambon.

“Soal Gunung Botak juga secara lisan dari Pak Presiden sudah instruksikan untuk sesegera mungkin menutup tambang emas di Gunung Botak. Penyampaian lisan itu saat pelaksanaan HPN kema­rin,” kata gubernur kepada wartawan di ruang kerjanya, Kamis (16/2).

Bukan hanya dari Presiden, namun kata gubernur, per­mintaan agar Gunung Botak ditutup juga disampaikan Menteri Lingkungan Hidup Siti Nurbaya.

“Menteri Lingkungan Hi­dup juga sempat menanyakan ke saya apakah tambang ter­sebut sudah ditutup. Beliau meminta agar segera tambang tersebut ditutup,” ungkap  gubernur.

Instruksi untuk menutup segera tambang emas Gunung Botak, karena pemerintah pusat tidak ingin tambang tersebut menjadi sumber konflik di masyarakat.

Menurut Penjabat Bupati Buru, Ismael Usemahu, saat ini sekitar 2.500 penambang ilegal menduduki Gunung Botak dan sekitarnya.

Penertiban ribuan penam­bang ilegal di Gunung Botak sebelumnya dilakukan November 2015 lalu. Mereka angkat kaki dari “lumbung emas” itu setelah dipaksa apa­rat gabungan TNI, Polri dan Satpol PP dibawah ken­dali Dinas ESDM Maluku.

Penggusuran ribuan penam­bang ilegal dengan alasan kawasan Gunung Botak dan sekitarnya akan dibersihkan dari merkuri dan sianida. Se­telah kosong, Kadis ESDM Maluku, Martha M Nanlohy membawa masuk PT Buana Pratama Sejahtera (BPS).

Tak hanya membersihkan, namun perusahaan yang di­pim­pin  Mintaria Loesiahari ini di­duga mengangkat material emas. PT BPS tak bisa disa­lahkan, karena itu kompensasi yang diberikan atas dana milia­ran rupiah yang dikucurkan ke rekening Kadis ESDM.

Kewenangan untuk me­manfaatkan material emas oleh PT BPS juga diatur dalam kontrak kerja kerjasama yang diteken oleh Kadis ESDM dan Bos PT BPS

Kucuran dana miliaran rupiah dari PT BPS ke rekening Kadis ESDM saat ini tenga diusut Kejati Maluku

Gubernur juga telah menu­tup sementara tambang emas Pulau Romang yang dieksplo­rasi PT GBU. Sebagian besar warga mendesak PT GBU ang­kat kaki, karena eksplorasi yang dilakukan merusak ling­kungan. Saat turun ke lokasi tambang, tim Kajian Unpatti menemukan bahan berbahaya merkuri.

Sedangkan soal  pertam­bangan rakyat batu Sinabar di Desa Ihaluhu, Kabupaten SBB gubernur meminta Pem­kab setempat untuk menga­wasi ketat.

Batu Sinabar adalah sumber utama penghasil logam merkuri. Tambang rakyat ini sudah beraktivitas sejak tahun 2015. Konon, kandungan merkuri pada batu Sinabar di SBB adalah yang terbaik karena mencapai 80 persen.

“Saya sudah meminta ke pemkab agar pertambangan rakyat ini harus diawasi dengan ketat,” kata gubernur  kepada wartawan, usai menjadi pem­bicara dalam Rapim Kodam XVI/Pattimura di Aula Korem 151/Binaiya, Senin (20/2).

Gubernur mengaku, telah menyurati Pemkab SBB se­menjak Jacobus F Puttileihalat menjadi bupati. Ia meminta perhatian serius untuk ikut mengawasi pertambangan ba­tu Sinabar tersebut.

“Saya sudah buat surat 3 kali kepada bupati di sana un­tuk mengawasi, dari semenjak pak Bob Puttileihalat sampai sekarang, kita minta untuk diawasi dengan ketat,” tan­dasnya.

Gubernur berharap kedepan ada perusahaan yang dapat menangani pertambangan rak­yat tersebut, sehingga ti­dak memberikan dampak negatif terhadap lingkungan.

“Kalau bisa ada satu pe­rusahaan besar yang bisa  melindungi tambang-tambang rakyat ini,” ujarnya.

Ia menegaskan, tambang rakyat tidak bisa ditutup, te­tapi tidak boleh mence­markan lingkungan.

“Memang tambang rakyat tidak bisa kita tutup, saya sam­paikan silahkan mau tambang boleh, asalkan ja­ngan gunakan merkuri. Kalau menggunakan itu tentunya akan kita larang,” tandas gu­bernur.

Ambil Alih

Pangdam XVI Pattimura, Mayjen TNI Doni Monardo meminta gubernur segera me­ng­ambil alih kawasan tam­bang di Desa Ihaluhu SBB. Kalau dibiarkan, maka dikha­watirkan Maluku akan men­jadi kawasan tambang dengan penggunaan merkuri tertinggi di dunia.

“Merkuri di Indonesia su­dah beredar ribuan ton, pada­hal dari PBB hanya mengi­zinkan se­buah negara tidak boleh me­miliki merkuri lebih dari 50 ton. Dan merkuri ribuan ton yang beredar di Indonesia sebagian berasal dari Iha­luhu SBB,” tandasnya.

Ia berharap agar kondisi bisa menjadi perhatian peme­rintah daerah, karena batu Sinabar yang ada di Desa Ihaluhu ada­lah batu yang memiliki kandu­ngan merkuri terbaik. Lebih dari 80 persen adalah merkuri.

“Ini juga akan menjadi masalah bagi kelangsungan kelestarian alam di Maluku,” tandas Pangdam. (S-46)

0 komentar:

Posting Komentar