Senin, 13 Maret 2017

Insiden Nenek Hindun bentuk kekecewaan masyarakat Jakarta

Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Sodik Mudjahid. (ISTIMEWA)

LENSAINDONESIA.COM: Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Sodik Mudjahid mengatakan masyarakat kecewa dan memprotes pemerintah yang memihak salah satu pihak di Pilkada DKI Jakarta. Hal itu dia sampaikan terkait jenazah nenek 78 tahun bernama Hindun binti Raisman warga Jalan Keret Karya, Karet, Setiabudi tidak bisa disalatkan diduga tidak disalatkannya perempuan itu karena mendukung pasangan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Djarot Saiful Hidayat.

‎”Itu sebagai bentuk protes, kekecewaaan dan juga ketidakberdayaan masyarakat kepada pemerintah yang oleh kolempok tersebut dinilai sangat melindungi Ahok,yang juga sebagai terdakwa,dan sebagai paslon,” ujar Sodik di Jakarta, Senin (13/3/2017).

Politisi Partai Gerindra ini menyatakan bahwa mereka juga kecewa kepad teman seagama yang dinilai mereka tidak patuh kepada ajaran Alquran dalam memilih pemimpin.

“Dua alasan ini menyakiti sehingga mereka melakukan berbagai cara yang bisa mereka lakukan untuk menekan pendukung Ahok,” jelasnya.

Selain itu Sodik juga mengajak semua pihak diminta untuk lebih dewasa dalam menjalani proses demoktasi pilkada DKI Jakarta.

“Patuhi regulasi dan ketentuan jangan ada yang curang. Dan diatas itu‎ patuhi juga norma-norma yang berlaku jangan sampai membangun konflik horizontal yang mendalam‎ karena pilkada ada batas waktunya,”pungkasnya.

Ustaz Ahmad Syafii, yang mensalatkan jenazah Nenek Hindun, menjelaskan duduk persoalan yang kemudian menjadi buah bibir warga tersebut. Dia membantah bila tak ada warga yang menyolati Nenek Hindun karena alasan pilihan politiknya.

“Perkaranya itu bukan karena milih Ahok, bukan enggak disalati, saya yang ngimami, saya yang bantu talqin (melepas arwah orang yang kritis dengan kalimat tauhid) kan 24 jam sebelum Nenek (Hindun) meninggal,” terang Ahmad Syafii di rumahnya, yang persis berada di depan sebuah spanduk penolakan menyalati jenazah pendukung penista agama.

Syafii menerangkan, pilihan untuk mensalati jenazah Hindun di rumahnya karena tak ada kaum lelaki yang akan mengangkat jenazahnya ke musala. Terlebih, kata dia saat mau disalati, penggali kubur sudah menelepon dirinya agar jenazah cepat diantarkan untuk dikuburkan.

“Jadi, pas saat itu, saat jenazahnya sampai di rumah, tukang gali makam sudah nelpon saya, suruh cepet sebab sudah sore banget, dia harus pulang. Saya bilang di telepon itu, tunggu dulu, ini belum disalatin, saya bahkan kasih tip agar tukang galinya mau menunggu,” kata dia.

Meski begitu, Syafii mengakui telah menolak permintaan keluarga agar jenazah Hindun disalatkan di musala. Sebab, kata dia, saat itu dirinya sudah diburu waktu. Apalagi, mobil yang akan membawa jenazah Nenek Hindun ke musala terjebak macet, sehingga tak ada warga yang membawa jenazah Hindun ke musala.

“Jadi, rombongan itu ketahan sama macet, ya memang enggak ada orang, mau salatin di musala gimana? Orang enggak ada, terus tukang gali kubur sudah minta cepet terus,” terang Syafii.@dg

0 komentar:

Posting Komentar